Bab 77: Perjalanan ke Kantor Urusan Sipil




Bab 77: Perjalanan ke Kantor Urusan Sipil


Ketika Lin Ruolan melihat Jiang Nan berkeringat, secercah kelembutan melintas di matanya. Perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan.


Seperti kenangan yang tiba-tiba muncul, menusuk relung hatinya.


Dulu, dia juga pernah memeluknya seperti ini. Pria itu berkeringat, tapi tak pernah mengeluh lelah atau sulit. Dia tertawa lepas dan tampan.


Alangkah indahnya jika bisa bersamanya seumur hidup, pikirnya dalam hati.


"Ayah, biar aku lap keringat Ayah."


Lin Ke'er tersenyum bahagia, lalu mengecup pipi Jiang Nan dengan bibir mungilnya.


"Aduh, jenggot Ayah kasar banget. Nakal!"


Lin Ke'er tertawa riang, polos dan bahagia.


"Ini hadiah Ayah untukmu, boneka beruang grizzly besar. Suka?"


Jiang Nan memeluk putrinya erat. Hatinya terasa lumer.


"Suka, suka sekali! Apa pun pemberian Ayah, aku suka. Ibu, sini, peluk Ayah. Boneka beruang grizzly ini empuk banget, kayak sofa."


Lin Ke'er mengulurkan tangan pada Lin Ruolan, seolah mengirimkan undangan.


Banyak orang tua dan anak di sekitar mereka merasa iri. Mereka mengira keluarga ini sangat bahagia.


Tapi bagaimana Lin Ruolan bisa melewati rintangan di hatinya?


Namun, dia tak tega menolak permintaan putrinya yang terus mendesak, apalagi dengan tangan mungil Ke'er yang menarik-nariknya.


Lin Ruolan hanya bisa mengucapkan beberapa kata pelan, lalu ikut terpeluk dalam dekapan Jiang Nan.


Jiang Nan mencium aroma familiar dari tubuh Lin Ruolan. Dia merasa semua yang dia lakukan — sekian lama mempersiapkan kejutan ini — benar-benar berharga.


"Ayo cari tempat sepi, aku mau bicara."


Lin Ruolan menurunkan Lin Ke'er dan membiarkannya bermain di perosotan.


Dia duduk di bangku terdekat, tetap mengawasi setiap gerak-ulang putrinya.


Namun, di mata indah dan alisnya yang lentik, terselip sedikit guratan kesedihan.


"Aku berharap dia cepat besar."


Jiang Nan diam-diam membeli minuman dan menyodorkannya.


Lin Ruolan memandang minuman itu. Ada rasa familiar sekaligus aneh.


Ini adalah minuman favorit mereka waktu pacaran dulu.


Masa-masa sederhana dan bahagia itu kini tinggal kenangan.


Tapi saat meminumnya, rasanya sama sekali tidak enak.


"Kenapa kamu memanggilku ke sini?"


Jiang Nan berdiri di samping Lin Ruolan, menjaga jarak. Posturnya tegap.


"Tentu saja untuk Ke'er. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu."


Lin Ruolan menghela napas, terdiam beberapa detik.


"Keluarga Lin-ku ingin menjemput Ke'er. Bahkan mereka sudah menjodohkanku dengan seseorang. Sepertinya mereka berniat memisahkan aku dan Ke'er."


Kaleng minuman di tangan Jiang Nan perlahan penyok. Api berkobar di matanya. Dia menggertakkan gigi.


"Bagaimana sikapmu? Ada rencana?"


"Ini masalah besar. Aku benar-benar tidak bisa memikirkan siapa pun selain kamu. Jadi aku ingin membuat perjanjian kerjasama dengan kamu. Coba lihat."


Lin Ruolan mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya dan menyerahkannya pada Jiang Nan.


"Sejak menjadi CEO wanita, kamu pasti sudah terbiasa teliti dan serius dalam segala hal. Pokoknya hitam di atas putih, baru merasa aman. Tapi dengan aku, kamu tidak perlu repot-repot kayak gini. Bilang saja langsung."


Jiang Nan tidak membaca. Dia malah melipat dokumen itu dan menyimpannya.


"Jangan main-main. Aku ini mikir serius. Soalnya, sekarang kamu tunawisma, tidak punya penghasilan tetap, dan sudah menyinggung banyak orang. Hidupmu tidak aman. Masak kamu yang tanda tangan? Itu lebih rugi buat kamu."


Lin Ruolan tampak serius, bersedekap, wajahnya tegang.


"Oh? Coba aku lihat."


Jiang Nan cepat-cepat membaca isinya. Senyum tipis mengembang di bibirnya.


"Ini... serius dihitung?"


"Kenapa, menurutmu terlalu berat? Kalau keberatan, ya sudah."


Lin Ruolan memonyongkan bibir, alis lentiknya sedikit berkerut.


"Tidak, aku setuju dengan semua syarat yang diajukan. Tapi aku tidak perlu bayaran apa pun dari kamu. Tenang saja, aku sudah bilang, aku tidak akan menyusahkanmu lagi. Urusanku sudah selesai."


Mata Jiang Nan berbinar. Dia melirik Lin Ke'er, penuh kasih sayang.


"Sungguh? Urusan sebesar ini, masa kamu setuju secepat itu? Jangan-jangan kamu punya rencana aneh. Kalau kamu nggak nurut, aku berhak membatalkan kerjasama ini kapan saja."


Lin Ruolan cukup terkejut. Tadinya dia mengira Jiang Nan masih akan ragu-ragu.


Lagipula, kebanyakan pria pasti berat kalau disuruh pura-pura jadi ayah dari anak tiri, apalagi harus menurut di keluarga Lin.


Dengan begini, rencana menjodohkan dari keluarga Lin bisa digagalkan, dan dia bisa tetap bersama putrinya tanpa direbut keluarganya.


"Aku pasti patuh. Aku cuma punya satu pertanyaan: Akta nikah kita asli atau palsu?"


Ekspresi Jiang Nan tenang, tapi matanya menyimpan harap.


"Keluarga Lin tidak mudah ditipu. Pasti asli. Karena kamu setuju, cepat tanda tangan. Kita berangkat ke Kantor Urusan Sipil."


Lin Ruolan teringat, dulu mereka pernah berencana mengadakan pesta pernikahan dulu, lalu mengurus akta nikah belakangan.


Waktu itu dia bilang, sudah bersamanya seumur hidup, buat apa diikat secarik kertas?


Tapi siapa sangka, keadaan berubah. Ujung-ujungnya mereka harus tunduk pada waktu.


Jiang Nan tanpa banyak bicara langsung menandatangani, lalu berkata, "Aku harus pulang ambil KK. Nanti aku nyusul. Kamu tunggu."


"Jangan buru-buru. Keluarga Lin akan mengirim utusan beberapa hari lagi. Ada masalah lain yang hanya bisa kamu selesaikan."


Lin Ruolan tampak sedikit ragu. "Sekolah Ke'er tiba-tiba mengadakan kegiatan wajib orang tua dan anak. Harus dihadiri kedua orang tua. Kalau tidak, anak bisa dicabut hak sekolahnya."


"Zaman sekarang, masuk sekolah unggulan memang susah."


Wajah Jiang Nan langsung berseri. "Bagus! Sekarang aku bisa menemani putriku belajar."


"Jangan senang dulu. Kalau pihak sekolah tidak mengadakan tes DNA, mana mungkin aku datang padamu? Ini kejadian pertama kali. Kata sekolah sih, demi tumbuh kembang anak."


Lin Ruolan menutupi wajah dengan tangan, mengeluh pelan, dan melirik Jiang Nan penuh selidik.


"Oh? Peraturan aneh. Tapi aku rasa bagus, demi anak-anak. Mulai kapan aturan ini berlaku?"


Harapan Jiang Nan malah semakin membuncah. Ini peluang sempurna.


"Lho, kamu malah semangat. Rasanya peraturan mengada-ada ini sengaja dibuat buat kamu."


Lin Ruolan tertawa kecil, geli sekaligus tak berdaya.


"Benarkah? Ada begitu?"


Jiang Nan mengangguk sambil tersenyum.


"Ayah, Ibu, aku sudah tidak mau main. Ayo makan. Aku laper banget!"


Saat itu, Lin Ke'er berlari kecil mendekat, tubuhnya basah keringat, lalu memeluk leher Jiang Nan.


"Iya, Ke'er mau makan apa? bilang aja. Ayah traktir."


Jiang Nan menyeka keringat putrinya dengan lembut, lalu mencium pipinya yang merona.


"Aku mau mie Jin Kou Fu. Boleh, Ayah?"


Lin Ke'er memiringkan kepala, matanya penuh harap.


Mata Jiang Nan melembut. "Cuma mie? Terlalu sederhana, 'kan? Mau Ayah masakin?"


Lin Ruolan tiba-tiba bersuara, "Kamu ini aneh. Masa segampang itu? Mie Jin Kou Fu itu terkenal susah didapat di Nancheng. Kalau pesan, antreannya panjang, kudu nunggu berhari-hari. Jam segini mana mungkin dapet? Ke'er, jangan rewel."


"Tapi Bu, dulu Ibu bilang Ayah itu superman, hebat banget. Apa pun pasti bisa. Benar, 'kan, Ayah? Aku pengen banget..."


Lin Ke'er mengusap mulutnya, menggoyang-goyangkan lengan Jiang Nan, manja.


"Jangan ribut, Nak. Orang harus tahu diri. Ayo ganti menu lain."


Lin Ruolan menarik tangan Lin Ke'er.


Jiang Nan sudah keburu mengirim pesan. Dia menyimpan ponsel, lalu mengangkat Lin Ke'er.


"Aku sudah pesan tempat. Ayo, kita makan malam di Jin Kou Fu sekarang."


Lin Ruolan tidak percaya. Dia menggeleng.


"Kamu ini, ngomong sembarangan ke anak kecil, nggak apa?"


"Percaya, deh. Sekali ini. Dia anakku."


Jiang Nan melangkah mantap ke depan, memimpin jalan.


Lin Ke'er berseru sambil menarik Lin Ruolan. Lin Ruolan, setengah percaya setengah tidak, akhirnya ikut melangkah.


---


https://www.novelterjemahanterbaru.my.id/2026/04/bab-78-memberi-jalan.html


‎#noveldewaperang #novelindo #novelpetualangan #novelseru #novelayahkudewaperang #dewaperang #ceritanovel #novelterkini #novelpopuler #novelupdate #novelterkini #novelterjemahan #novel

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama