Bab 98: Lin Ruolan yang Pemberani




Bab 98: Lin Ruolan yang Pemberani


Apakah hidup lebih berat daripada mati?


Kalimat seperti itu biasanya digunakan Jiang Nan untuk menggambarkan orang lain.


Andai yang di depannya bukan ayah mertuanya, mungkin orang itu sudah lama kehilangan nyawa, bahkan kepalanya pun mungkin sudah melayang.


Secercah hawa buas melintas di mata Jiang Nan, tapi sirna dalam sekejap. Dia bicara santai.


"Ayah mertua, mau saya jelaskan seperti apa?"


Urat di dahi Lin Jiade menonjol. Matanya menyala-nyala. Amarahnya membuncah.


"Dasar biadab! Berani-beraninya kau perkosa adik iparmu? Bertahun-tahun di penjara, jiwamu sudah jadi mayat hidup, lebih rendah dari babi dan anjing!"


Lin Ruolan tidak tahan mendengar makian sekotor itu.


Dia bergegas maju, dengan malu dan marah berkata, "Ayah, aku tadi ada di sana! Ini semua salah paham. Kakak mungkin sedang mabuk, ngomongnya ngaco."


"Diam, dasar anak durhaka! Jangan bela Jiang Nan. Aku tidak tahu maksudmu pulang kali ini, tapi adikmu tidak gila. Masa dia mengaku-ngaku diperkosa? Aku semakin kecewa padamu. Minggir! Kalau masih menghalang, kuhukum kamu juga!"


Lin Jiade, selayaknya kepala keluarga, sangat berwibawa. Marahnya membuat banyak orang takut bersuara.


Seperti badai, dahsyat dan menakutkan.


Lin Qiuyue melirik dari kejauhan, lalu buru-buru menutup wajahnya dan mulai meratap.


"Aku tidak mau hidup! Bagaimana aku bisa menghadapi orang setelah ini? Jiang Nan, dasar biadab! Dasar keparat! Kamu... kamu sudah memperkosaku!"


Makin ke sini makin menjadi-jadi. Semua orang ikut panas.


Apalagi ibu mertua, Jin Manzhi, sangat marah sampai memukuli dadanya sendiri. Seluruh tubuhnya gemetar.


"Celaka! Celaka! Keluarga Lin kita kenapa begini nasibnya? Orang gila seperti ini harus dihukum berat! Harus diarak keliling! Pantas dia dipenjara dulu! Seharusnya dihukum mati! Jangan dilepas begitu saja!"


"Tenang. Sebentar lagi aku hubungi Kepala Chen. Suruh dia bawa anak buahnya untuk menghajar Jiang Nan."


Lin Jiade mengunci semua pintu gerbang, seolah takut Jiang Nan kabur.


Tapi Jiang Nan tetap tenang. Ekspresinya tidak berubah. Dia bahkan menyantap camilan dengan santai.


"Lihat tuh, lihat tingkahnya! Ayah, Ibu, aku tidak tahan! Aku ingin bunuh dia sekarang! Kalian semua, tangkap dia!"


Song Haobo, si kakak ipar, marah bukan kepalang. Dengki dan benci nyaris membuatnya gila.


Pria mana yang tega diperlakukan begitu? Yang tega wanitanya dilecehkan?


Tapi sebagai kepala keluarga, Lin Jiade masih punya ketenangan. Dia mengangkat tangan, memberi isyarat agar semua berhenti.


"Haobo, aku mengerti perasaanmu. Nanti pasti aku kasih penjelasan. Kalau kita pukuli dia sekarang, orang akan bilang kita bully. Dia memang keterlaluan, tapi kita tidak boleh melawan kekerasan dengan kekerasan. Jangan langgar hukum. Anjing menggigit kita, apa kita balik gigit anjing?"


"Tapi... aku tidak terima penghinaan ini! Dasar keparat! Aku ingin bunuh Jiang Nan!"


Mata Song Haobo merah. Seluruh tubuhnya gemetar. Tinjunya terkepal sampai berbunyi.


Kalau Lin Jiade tidak menghalangi, mungkin Song Haobo sudah menyerang dan... tewas di tempat.


Tentu, Jiang Nan tidak akan membunuhnya di depan umum. Lagipula tidak perlu.


"Urusan ini akan saya selesaikan secara adil. Begitu Kepala Chen datang, Jiang Nan langsung ditangkap. Dia punya catatan kriminal. Kali ini kesalahannya lebih berat. Haobo, antar Qiuyue istirahat dulu."


Lin Jiade bicara dengan wajam gelap. Tapi Song Haobo tak bergerak.


"Aku tidak mau pergi. Aku ingin lihat sendiri bajingan ini ditangkap. Baru aku puas."


Lin Qiuyue dan ibunya meninggalkan tempat lebih dulu menuju kamar.


Sementara yang lain terus mengepung Jiang Nan, mengawasi gerak-geriknya.


Lin Ruolan berada di posisi yang sulit. Terjepit.


Tapi dia tidak bisa tinggal diam.


"Ayah... tolong dengar aku sebentar..."


Lin Jiade langsung memotong.


"Apa yang mau kau bilang? Pergi sana, cari tempat untuk menenangkan diri. Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau aku putus hubungan. Beneran udah buta, udah gila. Di saat begini masih bela Jiang Nan?"


"Tapi..."


"Tidak ada tapi! Satpam, bawa dia pergi!"


"Aku tidak mau pergi. Aku tidak mau!"


Lin Ruolan sesal. Dia menatap Jiang Nan. Pria itu diam, sangat tenang.


Entah kenapa, dia tiba-tiba merasa kasihan padanya.


Sepertinya akulah yang mencelakakannya. Kalau aku tidak memintanya datang membantuku, mana mungkin begini jadinya.


Lin Ruolan merasa bersalah. Dia membayangkan Kepala Chen akan segera datang dan menangkap Jiang Nan.


Dengan kekuatan keluarga Lin, meski hanya kesalahan kecil, Jiang Nan bisa dipenjara bertahun-tahun.


Apalagi ini menyangkut reputasi dan kehormatan kakaknya. Bukankah Jiang Nan akan hancur?


Seluruh keluarga sudah benci Jiang Nan. Sekarang malah tambah parah.


Lin Ruolan takut dan cemas. Matanya berkaca-kaca. Dia menggigit jari, lemas berjongkok.


Melihat wajah marah anggota keluarganya, dia merasa dunia ini sungguh tidak adil.


Ternyata aku memang anak yang tidak diinginkan di keluarga ini.


Sebuah kesadaran yang menyakitkan.


Jiang Nan melihat Lin Ruolan, memahami isi hatinya. Dia sedikit mengerutkan kening, lalu berjalan mendekat.


"Mau apa? Tidak dengar, ya?"


Lin Jiade meraung. Yang lain bersiap menyerang Jiang Nan.


Tapi langkah Jiang Nan mantap, bagaikan gunung yang kokoh. Wibawanya luar biasa. Mana mungkin mereka bisa menghentikannya?


Dia melenggang, tanpa perlu menggerakkan jari, hanya menepis beberapa orang. Beberapa langkah, dia sudah sampai di depan Lin Ruolan.


"Jangan menangis. Aku tidak apa-apa. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa padaku."


Jiang Nan memegang pundak Lin Ruolan dan menyeka air matanya.


"Maaf..."


Lin Ruolan terbata, tak kuasa menahan air mata.


Saat itu, tiba-tiba dia teringat lukanya dulu. Kenangan pernikahan itu masih segar.


Luka lama seolah hendak terbuka lagi. Perih, tak tertahankan.


Dia menempelkan wajahnya di telapak tangan Jiang Nan. Air mata panas membasahi pipinya.


"Usir dia! Jiang Nan, jangan macam-macam, dengar! Lepaskan dia!"


Lin Jiade tegang. Dia takut Jiang Nan nekat, mengambil Lin Ruolan sebagai sandera. Itu akan merepotkan.


Jiang Nan mengabaikannya. Yang lain sudah mulai bergerak mendekat.


Saat itu, seseorang datang melapor.


"Kepala Chen sudah datang."


Lin Jiade langsung bersemangat. Song Haobo yang sudah lama menunggu berlari menyambut.


Kepala Chen datang dengan beberapa anggotanya. Dia mengamati lokasi kejadian, lalu menatap Jiang Nan.


"Itu dia! Tangkap! Dasar keparat ini tega berbuat begitu keji. Aku pastikan dia busuk di penjara!"


"Jangan! Dia difitnah! Jangan mendekat!"


Tak ada yang menyangka.


Lin Ruolan entah dari mana mendapatkan gunting — mungkin gunting pangkas tanaman di kebun.


"Lepaskan Jiang Nan. Nanti aku jelaskan semuanya. Kalau tidak, aku bunuh diri! Ayah, anggap saja Ayah tidak punya anak perempuan sepertiku!"


Lin Ruolan mengarahkan gunting ke tenggorokannya sendiri. Tangannya gemetar. Darah mulai menetes.


-https://www.novelterjemahanterbaru.my.id/2026/04/bab-99-keharmonisan-dalam-keluarga.html



‎#noveldewaperang #novelindo #novelpetualangan #novelseru #novelayahkudewaperang #dewaperang #ceritanovel #novelterkini #novelpopuler #novelupdate #novelterkini #novelterjemahan #novel

‎Source : Buku Qingxin 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama