Bab 103: Jatuh Cinta pada Orang yang Sama
Sepeda motor melaju kencang di jalanan dan gang-gang kota selatan, tanpa hambatan, melesat dengan kecepatan tinggi.
Langsung menuju Gunung Wangcheng.
Ini adalah satu-satunya gunung yang tersisa di kota ini setelah pembangunan besar-besaran.
Tempat ini juga merupakan destinasi wisata yang ramai.
Sebuah oase di tengah hutan beton, warisan alam yang masih asri.
Dulu, ketika Jiang Nan dan Lin Ruolan masih mahasiswa, mereka sering bergandengan tangan, membawa ransel berisi air mineral, roti, dan camilan, untuk mendaki ke sini.
"Percaya nggak sama aku?"
"Kamu mau ngapain? Berhenti!"
Saat itu, Jiang Nan tiba-tiba menginjak gas. Motor melesat menanjak di jalan gunung yang curam.
Lin Ruolan ketakutan. Wajahnya pucat. Dia memeluk erat Jiang Nan, memejamkan mata, dan berteriak sepanjang jalan.
Sudah lama dia tidak sebebas ini — berteriak sekencang-kencangnya, tak peduli apa pun.
Suaranya serak, air mata mengalir di pipinya, bulu kuduknya berdiri.
Takut dan senang, selalu bisa membantu seseorang melepaskan emosi yang terpendam.
Seolah-olah emosi yang bertahun-tahun terpendam akhirnya tersalurkan.
Sesampainya di puncak, Lin Ruolan terengah-engah. Matanya basah.
Tapi dia tersenyum. Manis sekaligus menyedihkan.
Dia menatap pria di depannya. Entah kenapa, dia meninju dada Jiang Nan pelan — seperti mengeluh, seperti bermanja.
Jiang Nan tiba-tiba meraih tangannya dan menariknya ke dalam pelukan.
Lin Ruolan terpana. Tanpa sadar, dia meronta sedikit. Tapi Jiang Nan langsung menciumnya.
Ciuman yang agak agresif. Dia mencoba menghindar, tapi bibirnya tertutup rapat. Dia susah bernapas. Begitu dia membuka mulut, Jiang Nan malah semakin dalam menciumnya.
Air mata mengalir di pipinya. Matanya terbelalak. Dia memukuli Jiang Nan, berusaha melepaskan diri.
Tapi dia tak bertenaga. Dia seperti kehabisan napas. Hanya dengan membalas ciuman itu dia bisa bernapas.
Setelah tenang, dia menggigit bibir Jiang Nan keras-keras.
Jiang Nan akhirnya melepaskannya. Tidak memaksanya lagi.
"Kamu ngapain?!"
Dia ingin marah, tapi terlalu malu dan cemas untuk bicara.
Melihat wajah Jiang Nan yang serius, dan tatapan matanya yang tiba-tiba lembut, dia sadar bibir Jiang Nan berdarah karena gigitannya. Sedih rasanya.
Hatinya melembut. Pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa. Dia memalingkan muka, pipinya merah padam, dan menutup bibirnya.
Sepertinya, kehangatan itu masih tersisa.
Angin gunung berembus dingin. Secara naluriah, dia memeluk tubuhnya yang menggigil.
Jiang Nan menyampirkan jaketnya di pundaknya. Suasana menjadi canggung.
"Um... kau ingat tulisan kita di sini dulu?"
Jiang Nan memulai percakapan. Dia melihat sekeliling, lalu matanya tertuju pada batu besar di puncak.
"Bertahun-tahun sudah... mungkin sudah hilang."
Lin Ruolan tak kuasa menahan diri untuk tidak menoleh.
Kenangan datang seperti banjir bandang, menyapu mereka, memenuhi hati dengan berbagai emosi dan perasaan.
Dia ingat betul anak laki-laki ceria itu — senyumnya yang hangat dan lembut, dengan antusias memahat nama mereka di batu.
"Lan, aku mau cinta kamu seumur hidup. Mau tulis apa?"
"Ah, aku nggak bakal bilang! Cepat turun! Bahaya!"
Dia berteriak panik sambil menghentakkan kaki.
"Aku nggak turun, kecuali kamu bilang."
Anak laki-laki itu keras kepala, mendongak dengan angkuh.
"Ya udah, kalau begitu aku tulis... cintaku ke kamu buat dua kehidupan. Setuju?"
Waktu itu, dia masih polos dan lugu, belum tersentuh berbagai masalah dan kesedihan dunia.
Dia tak pernah membayangkan hari ini dia akan menjadi CEO wanita yang disegani.
"Dua kehidupan? Cuma itu? Masa sih? Sepuluh ribu tahun, gimana?"
Anak laki-laki itu berteriak lantang, penuh semangat dan percaya diri.
"Mana mungkin hidup sepuluh ribu tahun. Dasar bego!"
Dia tertawa riang, matanya menyipit seperti bulan sabit.
"Hei, aku ingin mencintaimu selama itu. Siapa yang bisa melarangku?"
Anak laki-laki itu tetap mendongak, menatap kota di kejauhan, dan berteriak lantang dengan penuh semangat.
"Nancheng, dengar! Cepat atau lambat, aku, Jiang Nan, akan menaklukkanmu dan mempersembahkan tanah ini untuk gadis yang kucintai, Lin Ruolan. Kalau aku ingkar, biar aku jadi monster jahat..."
"Jiang Nan, kamu monster! Omong apa sih? Turun!"
Dia bertolak pinggang, cemberut marah, menghentakkan kaki.
Tapi dia malah tertawa terbahak-bahak sampai nyaris jatuh, sambil meledeknya, dan tetap tak mau turun.
Dia sampai menangis, menutup wajah, berjongkok. Anak laki-laki itu panik, langsung melompat turun, sampai pergelangan kakinya terkilir...
"Tulisannya masih ada di sini. Mau lihat?"
Anak laki-laki dulu kini sudah tumbuh menjadi pria tinggi tegap, berdiri di atas batu besar, matanya memandang jauh penuh wibawa.
"Tidak usah. Nggak ada yang menarik. Hati-hati."
Waktu berlalu begitu cepat. Segalanya seolah berubah. Kepolosan dulu seolah hilang selamanya.
Lin Ruolan menghela napas. Dia merasa seolah kehilangan dirinya yang dulu. Gadis polos dalam ingatannya itu seolah bukan dirinya.
Atau mungkin, dia yang melupakannya.
Tekanan hidup selama bertahun-tahun telah menggerogoti dirinya.
"Nanti aku foto, kirim ke kamu."
Jiang Nan menyentuh goresan itu. Beberapa sudah kabur, tapi jejak waktu masih terasa.
Lin Ruolan tidak melihat foto di ponselnya. Matanya kosong, alisnya berkerut pilu, menatap jauh, melamun.
Kota di bawah ini bagaikan sangkar besi, tapi orang tak punya pilihan selain memasukinya. Kalau bukan karena putrinya, dia pasti sudah lama ingin melarikan diri.
"Ayo pulang. Udah malem."
Lin Ruolan sangat takut mengingat masa lalu.
Saat dia hampir putus asa, dia memutuskan untuk mengubur semua itu dan menyendiri menjilat luka.
Di depan orang lain, dia dingin dan angkuh, hanya berpura-pura.
Sekarang, dia harus membuka luka itu lagi. Sakitnya tak tertahankan.
Jatuh cinta lagi pada orang yang sama, butuh keberanian luar biasa.
"Kamu naik ke atas dulu. Kita foto, buat kenangan."
Jiang Nan tak mau datang dengan sia-sia. Dulu, dalam pertempuran berdarah dan detik-detik kritis, tempat ini sering muncul di benaknya, memberinya motivasi dan bayangan tanpa batas.
Dia hanya ingin membawa Lin Ruolan ke sini, mengunjungi lagi, saat ada kesempatan.
"Yakin mau foto?"
Lin Ruolan mendongak.
"Anggap saja balas budi karena hari ini kamu mau menemani aku ke rumah keluarga Lin."
Jiang Nan berkata dengan perasaan campur aduk.
Lin Ruolan tersenyum pahit, lalu mengangguk. Keluarga Lin kali ini benar-benar meninggalkan kesan yang rumit baginya.
Dan sepertinya, dia juga ikut terdefinisi ulang.
Dia meraih tangan Jiang Nan. Dia ditarik berdiri. Hampir terjatuh, lalu dipeluk Jiang Nan.
Demi keselamatan, dia tak berani melepaskan diri. Wajah cantiknya memerah malu.
Saat hendak berfoto, sekelompok orang — pria wanita, kebanyakan muda — tiba-tiba datang. Mereka berisik dan gaduh.
Seketika, ketenangan dan keindahan tempat ini sirna.
"Hei, kalian berdua di atas batu itu, cepat turun! Kami mau foto! Jangan nginep di toilet!"
Seorang pria rambut pirang, sambil mengunyah permen karet dan merokok, menunjuk ke arah Jiang Nan dan Lin Ruolan.
Yang lain ikut bersorak, bersiul, bahkan ada yang mengacungkan batu untuk mengintimidasi.
Ekspresi Jiang Nan berubah drastis. Matanya tajam. Hawa dingin menyebar.
Lin Ruolan gugup. "Tidak apa-apa, kita pergi saja."
"Ini cuma satu-satunya."
Jiang Nan baru mengeluarkan ponselnya, tiba-tiba ada batu melayang ke arahnya. Untung dia sigap menangkapnya, kalau tidak bisa kena.
"Kalian berdua di atas batu, turun sekarang! Jangan buang-buang waktu kami! Mau pacaran ke hotel aja. Ngapain bikin romantis di sini..."
Kerumunan makin menjadi-jadi, saling mengacungkan jari tengah, melontarkan makian.
Mata Jiang Nan menyala. "Kalian tidak tahu sopan santun? Tidak diajari diam?"
"Kamu pikir kamu siapa? Jagoan? Turun ke sini. Ajarin kami sopan santun. Dasar goblok!"
"Ada satu tempat di mana kalian bisa tenang selamanya."
Wajah Jiang Nan merah padam. Matanya dingin menusuk. Udara di sekitarnya mencekam. Jari-jarinya bergerak. Batu di tangannya hancur menjadi debu.
https://www.novelterjemahanterbaru.my.id/2026/05/bab-104-akulah-ayahmu.html
#noveldewaperang #novelindo #novelpetualangan #novelseru #novelayahkudewaperang #dewaperang #ceritanovel #novelterkini #novelpopuler #novelupdate #novelterkini #novelterjemahan #novel
Source : Buku Qingxin

Posting Komentar