Bab 113 Segalanya Tidak Berjalan Baik
"Apakah ini ada hubungannya denganmu? Kamu yang di balik semua ini?"
Lin Jiade tampak bingung. Dia tahu betul kemampuan Lin Ruolan. Bahkan untuk masuk ke halaman luar tempat acara saja sudah sulit baginya.
Terlebih lagi, Jiangnan dan Lin Ruolan bisa masuk ke aula tanpa mengantre, dan sekarang bisa keluar masuk seenaknya.
Selain Jiangnan, tidak ada orang lain yang mungkin menyebabkan hal ini.
Mungkinkah dia selama ini salah menilai Jiangnan? Mungkinkah Jiangnan benar-benar mengalami banyak hal yang tidak terduga dalam beberapa tahun terakhir?
Jiangnan tetap tenang. "Kebetulan saya punya kenalan di sini. Makanya saya bisa menjenguk Bapak dan rombongan."
"Hah, kenalan apa? Saya yakin kamu diam-diam menyuap seseorang. Massa sih kamu punya kenalan di tempat elite begini. Cuma gembar-gembor doang!"
Song Haobo kesal setengah mati. Jenggotnya pun seolah berdiri, matanya melotot.
Baru saja dia malu setengah mati, dan sekarang dia melampiaskan kekesalannya pada Jiangnan.
Ekspresi Jiangnan berubah dingin.
"Omong-omong, tadi ada yang bilang, siapa pun yang gagal masuk aula harus berlutut minta maaf di depan umum. Itu masih berlaku, kan?"
Song Haobo langsung terdiam, mukanya merah padam, tak bisa membantah.
Lin Qiuyee, istrinya, hanya bisa menunduk malu.
"Kamu, kamu berhasil masuk, hebat! Cuma hoki doang. Kalau mau, aku juga bisa masuk! Aku bakal cari orang buat bantu aku!"
Song Haobo keras kepala bagaikan setan. Dia tak mau mengaku kalah. Segera dia mengeluarkan ponsel dan menelepon kenalan-kenalannya.
Sayangnya, begitu mendengar masalahnya terkait Konferensi Lima Provinsi, semua kenalannya mengaku tak bisa berbuat apa-apa.
Setelah menghubungi semua koneksi yang dia punya, semuanya nihil.
Song Haobo makin malu. Keringat dingin mengucur di dahinya. Wajahnya makin pucat.
"Bagaimana, Haobo? Ada jalan?" Lin Jiade masih menyimpan sedikit harapan pada menantunya ini.
Song Haobo tertawa pahit. Matanya melirik ke sana kemari. Dia malu untuk berbicara jujur, tapi dipaksanya juga tampak tenang.
"Nggak masalah. Katanya suruh tunggu sebentar. Mereka bakal kirim orang buat bantu kita. Ini cuma salah paham aja."
"Oh, gitu? Sayang, kamu hebat!" Lin Qiuyee langsung tersenyum puas. Dia meraih lengan Song Haobo dan mencium pipinya.
Lalu sambil mendongak, dia menatap tajam ke arah Lin Ruolan. "Gimana? Lo berdua datang mau malu-maluin diri sendiri, kan? Sayang banget ya, kami kecewain kalian. Jadi taruhan sebelumnya batal aja. Paling banter seri. Bener nggak, Yah?"
Lin Jiade tentu saja tidak ingin kedua menantunya terus berseteru. "Sudahlah, itu cuma omongan kesal. Karena nggak ada masalah lain, anggap saja selesai."
Song Haobo merasa lega. Dia melirik Jiangnan. Dia khawatir Jiangnan akan terus mempermasalahkan taruhan itu.
Dia tahu kebohongannya takkan bertahan lama. Pasti akan ketahuan.
Namun, Jiangnan tetap tenang. "Karena Ayah sudah bilang begitu, ya sudahlah. Hari sudah siang. Ayo pergi, Ruolan."
Lin Ruolan menghela napas lega. Dia pikir Song Haobo memang benar-benar sudah menghubungi seseorang.
Dia tahu kemampuan kakak iparnya itu. Song Haobo memang jago dalam urusan perizinan dan kenal banyak pejabat di Nancheng.
"Ayo kita ke aula sekarang. Tadinya aku pikir Jiangnan punya kenalan di sini buat bantu kita, tapi kayaknya nggak perlu lagi sekarang."
"Hush, berhenti jadi buaya darat. Siapa yang minta bantuan kalian? Lagian kalian itu bantu apa, cari muka doang. Suamiku tuh hebat. Cepetan pergi sana. Nggak tahu kalian ini apes banget, masa iya punya kenalan di sini?"
Lin Qiuyee berkata dengan nada sarkastik dan menyakitkan.
Jiangnan mengerutkan kening. Wanita ini benar-benar licik dan penuh tipu muslihat.
"Baiklah. Tapi kalau nanti Ayah kesulitan keluar, jangan sungkan minta bantuan, ya. Ayah, saya mau masuk rapat dulu."
Jiangnan berbalik dan pergi tanpa berkata-kata lagi.
Lin Ruolan segera menyusul.
"Huh, cuma pura-pura baik. Bikin mual. Lo pikir kita butuh bantuan mantan narapidana kayak lo? Nggak tahu diri. Gak tau malu!"
Lin Qiuyee meludah, memutar bola mata, terus mencaci maki.
Lin Jiade memperhatikan punggung Jiangnan. Ada firasat aneh di hatinya.
Kenapa dia bilang dia harus masuk rapat dulu?
"Berhenti berceloteh! Haobo, sudah siang. Tinggal beberapa menit lagi rapat dimulai. Gimana dengan koneksi yang kamu bilang tadi? Cepat kejar terus."
Lin Jiade sudah lama mempersiapkan rapat ini. Masalah mendadak ini membuatnya pusing.
"Aku, aku akan kejar lagi," ujar Song Haobo dengan ragu-ragu.
Dia pura-pura menelepon lagi, lalu berbohong.
"Yah, katanya lagi diurus administrasinya. Mereka lagi cari orang yang bisa bantu. Sebentar lagi selesai."
Lin Jiade terpaksa menunggu. Dia merokok sambil melamun. Frustrasi.
Sebagai kepala keluarga Lin yang terpandang, biasanya saat keluar, banyak orang yang hormat dan menjilat.
Kini, dia justru diusir dari pintu masuk, digiring ke sini, dan dikurung di depan umum.
Kalau bukan karena urusan pejabat tinggi itu, Lin Jiade pasti sudah naik pitam.
Saking kesalnya, kalau dia menggebrak meja, seisi Nancheng Selatan bisa gempar.
Namun, sampai rapat di aula dimulai, tetap tidak ada yang datang menjemput mereka.
Lin Jiade murka. Dia menatap Song Haobo dengan mata menyala.
"Apa-apaan ini? Katanya kamu cari orang? Mana orangnya? Kenapa kita belum juga boleh keluar?"
"Aku... aku nggak tahu, Yah. Aku..." Song Haobo menggagap.
Dia tahu betul temperamen ayah mertuanya. Tidak mungkin dia bisa terus berbohong.
Kalau sampai membuat ayah mertuanya marah besar, bukan hanya masa depannya yang suram, tapi sebagai menantu, dia mungkin tidak akan mendapat warisan apa pun dari keluarga Lin. Semua jerih payahnya selama ini bakal sia-sia.
"Katakan sejujurnya! Sebenarnya apa yang terjadi?" Lin Jiade menatap tajam. Dia mulai curiga.
"Aku salah, Yah! Ampun! Itu nggak ada yang bantu. Aku cuma gertak sambal di depan Jiangnan. Maaf, sebenarnya kayaknya kita nggak bisa masuk," ujar Song Haobo dengan suara parau.
Sambil berkata, dia mengedipkan mata ke arah Lin Qiuyee.
Lin Qiuyee sempat kaget, lalu paham. Dia langsung pura-pura menangis.
"Iya, Yah. Ini semua ulah Jiangnan si bangsat itu. Pria mana sih yang nggak menjaga harga diri? Jangan salahkan Haobo terus, Yah."
"DIAM! Kalian pikir saya ini gampang dibodohi? Kalian tahu apa artinya ini buat keluarga kita? KEBABLASAN!"
Lin Jiade murka. Dia memegang dadanya yang sesak. Padahal dia ingin menjalin proyek besar kali ini. Supaya kelasnya terangkat.
Meskipun keluarga Lin terkenal di Nancheng, dibandingkan seluruh klan keluarga Lin yang besar, mereka tidak ada apa-apanya. Bahkan sering direndahkan dan dianggap remeh dalam setiap pertemuan.
Kalau kali ini berhasil, dia bisa berbangga di depan keluarga besarnya.
Tapi semua hancur karena Song Haobo.
Melihat Lin Jiade mengamuk hebat sampai darahnya seolah naik ke kepala, Song Haobo panik. Sadar situasinya genting, dia langsung berlutut.
"Ampun, Ayah Mertua! Saya salah. Saya nggak pantas jadi menantu Ayah. Ayah jangan marah-marah."
Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka.
"Manakah Lin Jiade? Ikut saya. Bapak boleh masuk ke aula rapat."
Lin Jiade kaget. Apa maksudnya?
Tapi dia tak mau ambil pusing. Dia ingin cepat-cepat keluar dari ruangan ini.
Song Haobo dan Lin Qiuyee hendak mengikuti, tapi dihadang di pintu.
"Maaf, kami mendapat perintah. Kalian berdua harus tetap tinggal di ruangan ini."
"Atas perintah siapa? Siapa yang suruh gitu?" Song Haobo kesal.
"Manajemen puncak. Ada keberatan?" tanya staf itu dingin.
Song Haobo langsung pucat pasi. Dia berdiri membatu, wajahnya penuh kebingungan.
#noveldewaperang #novelindo #novelpetualangan #novelseru #novelayahkudewaperang #dewaperang #ceritanovel #novelterkini #novelpopuler #novelupdate #novelterkini #novelterjemahan #novel
Source : Buku Qingxin

Posting Komentar