Bab 115 Rencana Baru
Melihat tindakan Jiangnan yang tegas dan tanpa ampun, semua orang bertanya-tanya, siapa pemuda ini? Mengapa dia begitu berani dan nekat?
Masih muda, tapi sudah berani melawan pembuat onar seperti Fang Jianliang.
Di Nancheng Selatan, hanya sedikit orang yang berani macam-macam dengan Fang Jianliang.
Siapa sebenarnya pemuda ini?
Fang Jianliang justru paling menikmati perhatian seperti ini. Makin banyak yang menonton, makin bersemangat dia.
Dengan begitu, kepuasannya juga makin besar.
"Wah, sombong amat, bocah! Kamu pikir kamu siapa? Berani-beraninya bicara seperti itu sama aku? Cepat berlutut dan minta maaf!"
Fang Jianliang duduk santai, tidak menganggap Jiangnan serius.
Lin Jiade mulai ketakutan. Jiangnan terlalu nekat.
Kalau sampai menyinggung Fang Jianliang, kelak dia pasti akan membalas dendam pada keluarga Lin.
Orang ini terkenal kejam dan licik. Banyak pengusaha di Nancheng yang hancur karena dia. Jika dia menyasar keluarga Lin, konsekuensinya tidak terbayangkan.
Namun, Jiangnan tetap tenang. Dia hanya menatap Fang Jianliang dengan dingin.
"Jiangnan, kamu ini kenapa? Cepat minta maaf sama Tuan Fang. Anggap saja selesai."
"Baru tuh yang bener, Pak Tua. Harusnya generasi muda dididik yang bener. Jangan sampai gigi belum tumbuh sudah mau gigit. Lagian suaranya nggak enak didengar, kayak anjing menggonggong."
Fang Jianliang mencibir dengan arogan.
Lin Jiade gugup. Dia menyeka keringat di dahinya. "Tuan Fang, ini menantu saya. Masih muda, belum tahu apa-apa. Saya yang minta maaf, boleh?"
Fang Jianliang malah makin marah. Matanya menyala penuh kebencian menatap Jiangnan.
"Pantesan, ternyata cuma menantu. Dasar sampah. Kau pikir karena berani mukul anak buahku, urusannya selesai? Dengan banyak orang nonton begini, mukaku mau taruh di mana?"
Lin Jiade berkata dalam hati, "Aduh, repot ini. Jiangnan keterlaluan. Sekarang susah beresnya."
"Menurut Tuan Fang gimana?"
"Jangan banyak omong. Suruh menantu mu itu yang bicara. Bukannya tadi dia sombong? Kenapa sekarang diem aja? Lihat mertuanya merendah begitu, dia malah ciut? Ayo, bicara! Takut, ya?"
Fang Jianliang memandang Jiangnan dengan puas. Dia sengaja memprovokasi.
"Bapak duduknya memang enak, ya?"
Jiangnan tiba-tiba bersuara. Nadanya dingin. Wajahnya kelam.
"Hah? Maksudmu apa?"
Fang Jianliang merasa lucu.
Dia melirik kerumunan. Hampir semua orang memperhatikan. Dia makin puas. Lalu dia menyilangkan kaki.
"Gini aja. Kalian berdua jilat sepatuku sampai bersih. Anggap saja selesai. Kalau tidak, keluarga Lin bisa aku habiskan kapan saja. Kalian bakal menyesal pernah ketemu aku."
Lin Jiade terhenyak. Penghinaan seperti ini sungguh tak tertahankan.
Tapi kalau tidak dituruti, Fang Jianliang pasti akan terus membuntuti. Bagaimana dong?
Saat dia masih ragu, Jiangnan tiba-tiba melangkah maju.
Jiangnan meraih kaki Fang Jianliang.
Fang Jianliang tersenyum sinis.
Dikira Jiangnan akan jilat sepatunya. Semua orang pun berpikir demikian.
Tapi tiba-tiba terdengar suara patah tulang yang mengerikan.
Jiangnan mematahkan kedua kaki Fang Jianliang dengan sekali putaran. Fang Jianliang jatuh tersungkur di kursinya.
Darah berceceran. Daging dan tulang hancur.
Jeritan kesakitan menggema di seluruh aula. Fang Jianliang kesakitan luar biasa. Wajahnya pucat. Seluruh tubuhnya gemetar.
"Bajingan... kau tamat..."
"Diam!"
Jiangnan menampar wajah Fang Jianliang. Setengah giginya copot. Mulutnya berlumuran darah. Dia tak bisa bicara lagi.
Detik berikutnya, suasana hening mencekam. Hanya suara erangan kesakitan Fang Jianliang yang terdengar.
Fang Jianliang tidak percaya ada orang yang berani memukulinya di depan umum, apalagi oleh pemuda tak dikenal.
Biasanya, tak ada yang berani membentaknya.
Kini dia terkejut, marah, dan diliputi ketakutan yang luar biasa.
"Karena Bapak suka duduk, mulai sekarang duduk aja terus di kursi roda."
Jiangnan mengangkat Fang Jianliang dengan satu tangan, lalu melemparkannya ke depan pintu.
Andaikan Lin Ruolan dan yang lain tidak ada di sana, Fang Jianliang pasti sudah mati.
Aula menjadi sunyi. Semua orang menonton dengan tak percaya.
Pemuda ini gila?
Terlalu lancang. Masa depannya pasti hancur.
Ini tempat yang dipilih langsung oleh pejabat tinggi lima provinsi. Berani-beraninya dia melukai orang di sini. Sebentar lagi pasti dia ditangkap.
Tak lama kemudian, beberapa petugas keamanan dan staf berlari mendekat.
"Astaga, gimana ini, Yah?" Lin Ruolan ketakutan.
Bayangan hari pernikahan dulu kembali menghantuinya.
Tapi kali ini, dia melihat langsung Jiangnan melukai orang. Dan orang itu adalah Fang Jianliang, seseorang yang tidak bisa diganggu sembarangan.
"Aku juga bingung. Jiangnan, kamu terlalu nekat. Ini gawat. Kamu habis. Nggak bisa sabar, sih? Keluarga Lin ikut kena imbasnya," keluh Lin Jiade frustrasi.
Dia tadi sudah berusaha merendah di depan Fang Jianliang. Seharusnya masalah itu bisa selesai.
Sekarang kaki Fang Jianliang patah, mana mungkin dia diam saja?
Lin Ruolan sontak memeluk Jiangnan erat.
"Paling nggak, aku bakal pergi sama Jiangnan. Ayah, tolong pikirkan jalan keluarnya, Yah."
Jiangnan terharu. Di saat genting begini, Lin Ruolan nekat dan berani.
Sepertinya dia tidak salah pilih orang.
"Lan, Ayah dan ibu tenang aja. Rapatnya mau segera dimulai."
Jiangnan tetap tenang, seolah tak terjadi apa-apa.
Lin Ruolan kaget. Matanya menatap Jiangnan dengan takjub.
Kok setenang itu sih?
Mana mungkin masih kepikiran untuk menghadiri rapat?
Tapi yang lebih mengejutkan, para petugas keamanan dan staf itu justru menggiring para bawahan Fang Jianliang pergi.
Mereka membawa Fang Jianliang keluar untuk diobati.
Sedangkan Jiangnan, tidak ada yang mengusiknya. Sungguh aneh.
Saat dibawa pergi, Fang Jianliang sempat mengambil napas terakhir. Dia mengacungkan tangannya yang berlumuran darah ke arah Lin Jiade. Matanya penuh kebencian.
Lin Jiade merinding. Pikirannya kacau.
Fang Jianliang pasti akan balas dendam pada keluarga Lin. Kini yang harus dipikirkan adalah bagaimana melindungi keluarga Lin.
Tapi dengan kekuatan Fang Jianliang, keluarga Lin mungkin bukan tandingannya.
"Kenapa mereka nggak bawa pergi keluarga Lin, ya?"
"Iya, aneh. Mungkin mereka mau urusan belakangan setelah rapat selesai...?"
Lin Jiade mendengar bisik-bisik di sekitarnya. Hatinya makin berat. Dia ingin cepat-cepat kabur.
Saat itu, seorang staf naik ke panggung. Dia mengambil mikrofon dan mengumumkan, "Hadirin sekalian, mohon tenang dan duduk kembali. Saat yang paling ditunggu-tunggu telah tiba. Konferensi sebentar lagi akan dimulai. Pejabat tinggi dari lima provinsi yang paling Bapak-Ibu nantikan akan segera naik ke panggung..."
Tak ada yang peduli dengan insiden tadi. Mereka menganggap itu hanya keributan kecil. Cepat dilupakan.
Lagipula, itu urusan orang lain. Mereka cuma jadi penonton.
Kembali mereka bersemangat. Semua duduk tegak, menengadah, menanti kehadiran pejabat tinggi itu.
https://www.novelterjemahanterbaru.my.id/2026/05/bab-116-hal-yang-merepotkan.html
#noveldewaperang #novelindo #novelpetualangan #novelseru #novelayahkudewaperang #dewaperang #ceritanovel #novelterkini #novelpopuler #novelupdate #novelterkini #novelterjemahan #novel
Source : Buku Qingxin

Posting Komentar