Bab 133: Sebuah Masalah Kecil




Bab 133: Sebuah Masalah Kecil


Li Yaoguang tidak pernah membayangkan akan bertemu Jiang Nan dan Jiang Mengting di sini.


Kenangan pahit pernikahannya masih segar dalam ingatan, dan hingga hari ini pun ia tak bisa melupakannya.


Peristiwa itu telah lama menjadi mimpi buruk dan bayangan yang menghantui hati Li Yaoguang.


Namun hidup harus terus berjalan.


Ia memiliki sebagian kecil saham di pusat perbelanjaan pakaian ini dan rutin menerima bagi hasil.


Ia jarang datang ke sini.


Siapa sangka takdir mempertemukannya lagi dengan Jiang Nan di tempat sekecil ini?


"Aku... aku benar-benar tidak tahu kalian ada di sini, Mengting..."


Li Yaoguang tidak berani menatap mata Jiang Nan. Rasa takut itu dengan sendirinya merambat ke sekujur tubuhnya.


Aura mencekam yang dipancarkan Jiang Nan bagaikan Gunung Tai yang menjulang, menekan dada Li Yaoguang hingga sesak napas dan bicaranya terbata-bata.


Melihat bosnya seperti itu, kepala toko itu semakin ketakutan. Tubuhnya yang gemetar tak mampu menahan ketegangan, lalu ia pingsan untuk kedua kalinya.


"Apa ini tanggung jawabmu? Apakah kau yang mempekerjakan manajer ini?"


Jiang Nan menatap Li Yaoguang dari atas, jarinya menunjuk ke arah mayat manajer yang tergeletak kaku di lantai.


Li Yaoguang tentu masih ingat bagaimana Jiang Nan memerintahkan pembunuhan sepupunya.


Sejak hari itu, ia sering bermimpi buruk, tak bisa tidur di malam hari, dan menderita insomnia berkepanjangan.


Keadaannya baru saja sedikit membaik, tapi petaka yang paling ditakutinya kini datang kembali.


"Bukan... bukan aku. Aku hanya pemegang saham kecil. Bos besarnya tidak ada di sini hari ini. Aku benar-benar tidak tahu ini akan terjadi. Maafkan aku... aku mohon maaf padamu."


Li Yaoguang sadar diri. Ia tahu betul betapa dahsyatnya kekuatan Jiang Nan.


Ia segera berlutut. Para bawahannya di belakangnya saling berpandangan, bingung dengan apa yang terjadi.


Baru saja tadi Tuan Muda Li bicara dengan penuh percaya diri. Ia bilang akan membawa mereka mengamankan tempat ini dan menghajar para pembuat onar.


Kenapa sekarang ketakutan seperti ini?


Tapi mereka tidak bodoh. Jika Tuan Muda Li saja berlutut, apa hak mereka untuk tetap berdiri?


Sekelompok orang itu segera berlutut satu per satu, menundukkan kepala, tidak berani bersuara.


"Kau pikir permintaan maaf cukup?"


Ekspresi Jiang Nan dingin dan garang, dipenuhi niat membunuh. Suaranya bagaikan raungan naga dan auman harimau, membuat udara di sekitarnya bergetar.


"Mengting... demi hubungan kita dulu, tolong bicaralah pada kakakmu. Jika memang tidak ada hubungannya denganku, aku akan mengganti kerugian ini dua kali lipat... tidak, sepuluh kali lipat! Kalau kau mau, aku akan serahkan semua sahamku di sini padamu."


Li Yaoguang berulang kali bersujud. Ia tahu satu-satunya cara untuk selamat adalah memohon kepada Jiang Mengting.


Lagipula, ia tahu Jiang Mengting berhati lembut dan mudah luluh.


Jiang Mengting tidak menyangka akan bertemu Li Yaoguang di sini. Ia hanya merasa bahwa Li Yaoguang adalah seorang pengecut dan pria tak berguna.


"Kakak, biarkan dia pergi. Aku tidak apa-apa. Dia tidak tahu apa-apa tentang kejadian ini. Ayo pulang."


Suasana hati Jiang Mengting sudah jauh lebih baik, tapi ia masih menggenggam erat lengan Jiang Nan.


"Jangan terburu-buru. Li Yaoguang, kuberi kau waktu sepuluh menit. Suruh bos besar itu segera menghadapku. Jika tidak, aku akan rata dengan tanah tempat ini sekarang juga."


Jiang Nan memancarkan aura seorang penguasa, gagah dan berwibawa.


Li Yaoguang sangat ketakutan sampai hampir mengompol. Ia segera mengeluarkan ponsel dan menelepon bertubi-tubi.


Namun, tak ada yang mengangkat. Ia panik dan menatap Jiang Nan dengan tatapan memelas.


"Kakak... aku sudah coba semua cara. Dia tidak mengangkat teleponnya."


"Delapan menit lagi. Aku tunggu."


Jiang Nan mengangkat kepalanya dengan bangga dan menyalakan sebatang rokok.


"Baik... aku akan jemput dia sekarang. Bahkan jika harus menyeretnya ke sini, aku akan lakukan."


Li Yaoguang hampir ambruk. Para pengawalnya harus menopangnya untuk berjalan pelan ke dalam mobil.


"Tuan Muda Li, siapa orang itu? Begitu sombong. Kenapa Tuan Muda begitu takut padanya?" seorang anak buah bertanya penasaran.


Li Yaoguang segera menamparnya. Tangannya sendiri masih gemetar.


"Diam dan menyetirlah! Ini bukan masalah sepele. Ini soal mati hidup!"


Para bawahannya ketakutan. Tak berani lengah, mereka tancap gas.


"Tapi, Tuan Muda, bukankah Tuan bilang orang itu bahkan lebih berkuasa dari pada Tuan Lu?"


"Aku tidak tahu. Nanti kita bicara dengan Tuan Lu. Intinya, aku tidak berani main-main dengan Jiang Nan."


Li Yaoguang menyimpan luka yang tak terhapuskan di hatinya. Kini, satu-satunya harapan dan sandarannya adalah Lu Renjia, bos besar di tempat ia berinvestasi.


Semoga Lu Renjia bisa mengatasi Jiang Nan dan menyelamatkan nyawanya.


Jika tidak, ia harus kembali dengan pasrah menerima ajalnya. Ia bahkan tidak punya nyali untuk melarikan diri.


---


Di ruang VIP mewah sebuah tempat hiburan.


Beberapa pria kekar berjaga di depan pintu. Melihat Li Yaoguang, salah satu dari mereka menghampiri.


"Tuan Muda Li, ada angin apa?"


"Minggir. Aku harus ketemu Tuan Lu. Ini soal hidup mati."


Li Yaoguang buru-buru berkata.


"Jangan bercanda, Tuan Muda. Di kota ini, siapa yang berani mengancam nyawa Tuan? Tuan Lu sedang bersenang-senang di dalam. Jangan ganggu."


"Dasar antek! Kalau kalian tidak mau kerja, keluar saja! Ini darurat!"


Li Yaoguang mendorong mereka dan terus mengetuk pintu.


"Sial! Siapa yang mengganggu kesenanganku?"


Lu Renjia sedang di dalam bersama beberapa wanita, makan, minum, dan bersenang-senang.


Ia menyuruh seseorang membukakan pintu. Begitu melihat Li Yaoguang, wajahnya langsung cerah.


"Oh, ini Saudara Li. Kebetulan sekali. Ayo ikut bersenang-senang. Gadis-gadis ini masih baru, cantik-cantik lagi."


"Tuan Lu, jangan main-main! Aku ada urusan penting. Toloh suruh mereka keluar dulu."


Li Yaoguang sangat cemas. Ia sudah di ambang kematian, tak ada waktu untuk bermain.


"Ada apa, sih, sampai segitunya?" Lu Renjia terkejut. Ia mencubit para wanita di pangkuannya, menyuruh mereka pergi.


"Ada yang tewas, Tuan Lu!" Li Yaoguang segera menutup pintu, lalu berlutut di hadapan Lu Renjia.


"Tuan Lu, selamatkan aku! Aku bisa mati!"


Lu Renjia terdiam sejenak, menggaruk kepalanya. Ia menghisap cerutunya, meniupkan asap, menatap Li Yaoguang, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sambil membantu Li Yaoguang berdiri.


"Li, kau bercanda, ya? Ada apa denganmu? Mabuk? Kau ini tuan muda keluarga Li. Di Nancheng ini, siapa yang berani macam-macam sama kau?"


"Aku serius! Manajer pusat perbelanjaan kita sudah tewas. Sekarang siksaan itu sedang menungguku di sana. Dia cuma kasih waktu sepuluh menit dan minta ketemu sama Tuan. Kalau Tuan tidak datang, aku pasti mati. Sepupuku tewas di tangannya, dan pernikahanku juga hancur karena dia."


Li Yaoguang memasang ekspresi menyedihkan, seluruh tubuhnya gemetar.


"Apa? Jadi orang yang kau maksud itu Jiang Nan? Aku pernah dengar kau sebut namanya dulu. Brengsek, aku memang ingin ketemu bocah nakal itu. Sekarang dia malah datang sendiri ke wilayahku, bikin onar, bunuh orang. Dia memang mencari mati."


Lu Renjia meludah beberapa kali. Ia segera menyuruh orang membantunya berganti pakaian, meneguk segelas anggur, lalu bergegas keluar.


"Jangan khawatir, Saudara Li. Serahkan padaku. Hari ini aku pastikan Jiang Nan tidak akan pulang dengan selamat. Tapi setelah urusan ini selesai, kau harus traktir aku."


"Lupakan traktiran, semua sahamku kuberikan padamu. Aku juga akan investasi di bisnis-bisismu yang lain. Oke?"


Li Yaoguang seolah mendapat harapan terakhir dan mengikuti dari belakang.


"Baik, angkat senjata kalian! Hari ini kita habisi Jiang Nan!"


Lu Renjia berteriak dan menelepon seseorang. Puluhan mobil segera melaju menuju plaza pakaian.


Debu beterbangan di mana-mana, memenuhi pintu masuk.


Lu Renjia menggelengkan kepala dan berjalan masuk. Tak lama kemudian, pandangannya tertuju pada Jiang Nan.


Ia mendongak menatap Jiang Nan, merasakan sedikit tekanan. Ia meniupkan asap rokok ke arah Jiang Nan dan mencibir, "Jadi kau si brengsek Jiang Nan? Berani main-main dengan orang-orangku?"


Jiang Nan tetap tenang. Ia melirik kerumunan di sekelilingnya, lalu berkata dingin, "Kalian membawa banyak orang. Bagus, sekalian bisa mengantar kalian semua. Sekarang, berlutut dan minta maaf pada adikku. Lalu, aku akan mengantarmu ke akhirat."



https://www.novelterjemahanterbaru.my.id/2026/05/bab-134-kau-adalah-kakekku.html


‎#noveldewaperang #novelindo #novelpetualangan #novelseru #novelayahkudewaperang #dewaperang #ceritanovel #novelterkini #novelpopuler #novelupdate #novelterkini #novelterjemahan #novel

‎Source :  Buku Qingxin 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama