Bab 242: Kehidupan yang Mengerikan




Bab 242: Kehidupan yang Mengerikan


Seluruh penduduk desa sangat terkejut. Mereka menatap Jiang Nan.


Makin lama mereka memandang, makin yakin bahwa ia sangat mirip dengan seseorang.


"Memang mirip! Kapan kau pulang, Nak?"


"Kudengar keluarga Wang Zhenglong sangat sukses dalam beberapa tahun terakhir. Pengaruhnya besar."


"Ada yang bilang, setelah pindah, mereka mengalami keajaiban lalu menjadi kaya raya. Kini kekayaannya konon sebanding dengan kekayaan sebuah negara. Entah bagaimana ceritanya."


"Apakah pemuda ini pulang kampung untuk membangun desa kita? Kalau iya, selamatlah kita!"


Penduduk desa berdiskusi dengan bersemangat, penuh harapan.


Jiang Nan pun merasa tanggung jawabnya semakin besar.


Namun hingga kini, ia masih belum yakin apakah latar belakangnya sesuai dengan cerita itu.


Apakah ayah kandungnya benar-benar Wang Zhenglong?


Dan kenapa namanya Murong Xuan?


Setelah berpikir, ia memutuskan untuk menyelesaikan urusan Lao Qi terlebih dahulu, sebelum membahas hal lain.


"Semuanya, pulanglah. Jangan berdesas-desus di sini. Nanti akan kami jelaskan semuanya," kata Lao Qi sambil membubarkan warga.


Yanran membantunya masuk ke dalam rumah.


Lao Qi pun masih ragu dengan kemampuan Jiang Nan. Ia belum tahu seberapa hebat pemuda ini, sehingga ia tetap cemas.


"Yanran, bagaimana kalau kau pergi dulu? Nanti kalau mereka datang lagi, bisa-bisa kau ikut terseret."


"Aku sudah memilihmu. Apa lagi yang perlu kutakutkan? Aku sudah bertahun-tahun menanggung penghinaan dan penderitaan. Sekarang, apa yang masih kutakutkan? Aku akan ikut mati hidup denganmu."


Yanran duduk manis di samping Lao Qi.


Pasangan yang serasi! Kasih sayang mereka begitu mendalam, mengharukan.


"Tuan Jiang, apakah kita perlu mengirim beberapa orang untuk membantu? Atau memberi tahu pejabat setempat?" tanya Bai Ling dengan suara rendah.


Jiang Nan menggeleng. Ia tetap tenang dan santai.


"Tidak perlu. Ini masalah kecil. Apa kau tidak bisa mengatasinya?"


"Aku bisa. Hanya saja agak merepotkan," Bai Ling tersenyum tipis.


"Masalah ini tidak bisa terburu-buru. Kita selesaikan perlahan." Jiang Nan mengisap rokoknya perlahan, sikapnya anggun.


Benar saja, tak lama kemudian beberapa mobil tiba di luar.


Lebih dari seratus orang turun.


"Bos Fang, ini dia. Orang kurang ajar itu tidak menganggap Anda ada. Benar-benar kejam!" A Hu menutupi wajahnya yang babak belur sambil berjalan tertatih, melapor pada bosnya.


Fang Haohang sudah puluhan tahun berkecimpung di bisnis konstruksi. Ia sangat kaya dan diseguni banyak orang.


Lewat bisnisnya, ia juga menjalin banyak koneksi.


Karena itulah ia bisa mendapatkan proyek sebesar itu.


Proyek pembangunan jalan ini total investasinya lebih dari seratus miliar. Mereka diperkirakan akan meraup untung besar.


Namun, Fang Haohang yang didorong keserakahan, nekat mengambil jalan pintas.


Ia melakukan pembongkaran paksa. Ganti rugi yang diberikan bahkan tidak sampai sepersepuluh dari yang semestinya.


Warga desa hanya bisa menelan pil pahit, terintimidasi. Selama ini mereka hanya bisa diam dan pasrah.


Sikap lemah dan toleransi yang terus-menerus itu semakin membuat Fang Haohang berani bertindak sewenang-wenang.


Tak disangka, di saat genting begini, ia berhadapan dengan lawan tangguh.


A Hu adalah tangan kanan Fang Haohang, semacam preman lokal di daerah ini.


Dengan A Hu memimpin, semua urusan bisa diselesaikan. Paling buruk, pakai kekerasan.


Tapi sekarang, tiba-tiba ada yang berani melukai A Hu.


Fang Haohang cukup terkejut. Ia menduga pihak lain pasti orang penting.


Untuk berjaga-jaga, ia memutuskan datang sendiri untuk melihat situasi.


Begitu melihat Jiang Nan duduk santai, ditemani Bai Ling, dan sepasang lansia,


Fang Haohang merasa bingung. Ia menggaruk kepala, lalu menatap A Hu.


"Dasar bodoh! Cuma segini orang yang bisa mengalahkanmu? Kau yakin kau tidak mengigau atau mabuk?"


"Benar, Bos. Jangan remehkan wanita itu. Dia sangat kuat. Aku bukan lawannya. Sedangkan pria itu, entah siapa. Dia bahkan berani mengancam akan mengajari Bos. Dia benar-benar tidak tahu diri!"


Hasutan A Hu berhasil membakar amarah Fang Haohang.


"Sial! Aku tidak percaya. Apa dia bisa membalikkan keadaan? Dengan jumlah sebanyak ini, satu tendangan saja bisa meremukkannya!"


"Iya, Bos. Karena itu aku lapor ke Bos. Kali ini Bos harus membalaskan dendamku. Buat dia menyesal. Dan tangkap wanita itu. Aku ingin bersenang-senang, biar puas!"


A Hu menggosok-gosok tangannya. Matanya penuh niat jahat, mengamati Bai Ling dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Fang Haohang mencibir. Ia melangkah masuk perlahan, lalu menunjuk ke arah Jiang Nan.


"Nak, kau pikir kau orang penting? Kau tahu ini urusan yang tidak boleh kau ikut campur. Nanti kau bisa celaka!"


Jiang Nan memasang wajah tegas, suaranya berat dan tenang.


"Aku akan ikut campur. Kudengar kau sangat berkuasa di sini, sampai warga desa takut berbuat apa-apa. Aku yakin orang-orang yang terlibat dalam praktik kotormu tidak sedikit. Kenapa tidak kau panggil semua mereka ke sini? Sekalian aku bereskan, biar tidak buang waktu."


"Dibereskan sekaligus?"


Fang Haohang merasa geli sekaligus kesal. Dasar sombong!


Seolah-olah ia seorang utusan kerajaan.


"Hei bocah, kau terlalu angkuh. Ada apa denganmu? Kau pikir kau punya kemampuan sebesar itu? Coba kau cari tahu dulu siapa aku!"


"Aku tidak tertarik mencari tahu. Sekarang kau punya pilihan: segera beri ganti rugi yang layak, lalu lanjutkan pembangunan jalan itu dengan baik. Maka kau akan selamat. Jika tidak... keluargamu akan sangat merindukanmu."


Nada bicara Jiang Nan tenang, tapi menyimpan ancaman mencekam.


Banyak orang terkejut. Mereka mengira pemuda ini terlalu arogan.


A Hu segera menunjuk ke arah Jiang Nan. Wajahnya penuh percaya diri, tak kenal takut.


"Mau menakut-nakuti siapa? Hebat cuma sedikit ilmu bela diri? Kau buta? Lihatlah, di sini ada seratus anak buahku. Apa kau punya tiga kepala enam lengan?"


"Begitu? Kalau begitu, kalian semua bisa maju bersama," kata Jiang Nan santai sambil melambaikan tangan.


Semua orang naik pitam. Mereka menatap Fang Haohang, menunggu perintah.


Saat itu, Fang Haohang mulai ragu. Apa pemuda ini tidak takut mati? Atau ini jebakan?


Tapi bagaimanapun, ia tak bisa mentolerir penghinaan seperti ini.


Jika ia tidak memberi pelajaran pada orang sombong ini, bagaimana dia bisa menjaga muka di depan anak buahnya?


"Karena dia sudah nekat, buat dia sadar. Tangkap dia. Aku ingin bicara empat mata dengannya."


Atas perintah Fang Haohang, puluhan pria bersenjatakan pentungan menyerbu Jiang Nan.


"Mundur!"


Raungan keras menggema bagaikan raung naga dan singa. Jas Jiang Nan berkibar tanpa angin. Aura membunuh terpancar dari matanya.


Jiang Nan hanya melambaikan tangan, menggerakkan tubuhnya sedikit.


Seketika, bayangannya melesat beberapa kali. Sebelum siapa pun sempat melihat apa yang terjadi, pentungan dan senjata mereka berjatuhan ke tanah dengan bunyi berderak.


Semua orang merasakan bulu kuduknya berdiri.


Ia melucuti senjata puluhan orang dengan tangan kosong, dalam sekejap mata.


Terlalu cepat, terlalu menakutkan! Ilmu macam apa itu? Luar biasa!


Bagaimana ia melakukannya?


Bai Ling yang menonton dari samping juga merasa takjub. Ini adalah kesempatan langka melihat Jiang Nan beraksi.


Seorang pahlawan nasional sepertinya, tidak gentar menghadapi ribuan pasukan. Orang-orang kecil ini tidak ada artinya.


Dengan penuh semangat, Bai Ling menunjuk ke arah mereka.


"Kalian masih berdiri di situ? Cepat pergi!"


https://www.novelterjemahanterbaru.my.id/2026/05/bab-243-aura-mematikan.html



‎#noveldewaperang #novelindo #novelpetualangan #novelseru #novelayahkudewaperang #dewaperang #ceritanovel #novelterkini #novelpopuler #novelupdate #novelterkini #novelterjemahan #novel

‎Penulis : Xio Ma

‎Source :  Buku Qingxin 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama