Bab 345: Akulah Orang Itu




Bab 345: Akulah Orang Itu


Aku perlahan menoleh, tatapanku tajam dan dingin, seolah bisa mencekik lawan kapan saja. Tanganku gemetar—bukan karena takut, tapi karena tamparan tadi membuka kembali lukaku, dan darah mulai merembes.


Jiang Ting melirik tanganku sekilas, lalu berbalik dan pergi, hanya meninggalkan punggungnya yang dingin dan acuh tak acuh.


Saat kulihat darah menetes dari balik perban, aku merasa itu tidak masalah. Lebih baik daripada pendarahan di hati pada kehidupan sebelumnya.


Setelah tamparan itu, Jiang Ting menghilang lagi. Dia muncul di gosip hiburan, dikerumuni penggemar, di klub malam, di kantor, tapi tidak pernah di rumah.


Aku menghitung mundur hari. Tinggal setengah bulan lagi sebelum Jiang Ting dan Wei Lan bertemu.


Selama waktu itu, aku sering "bertemu" dengannya. Aku memesan secangkir kopi hitam dan diam-diam mengamati dia bekerja. Setiap senyum dan kerutan di dahinya terpatri dalam ingatanku.


Kalau aku laki-laki, aku juga akan menyukainya.


"Weilan, pacarmu datang!" seorang rekan kerja memanggil Wei Lan.


Ya, aku ingat dia punya pacar. Tapi pacar malang itu sama sekali bukan tandingan Jiang Ting. Meski mereka saling mencintai saat itu, mereka tidak bisa melawan gempuran kekuasaan dan status, akhirnya berpisah.


Saat aku tahu tentang Wei Lan, dia sudah putus dengan mantan pacarnya, jadi aku tidak menyelidikinya lebih jauh.


Pintu kafe terbuka. Seorang pemuda berbaju putih dan celana jins biru muda masuk. Dia memakai topi baseball putih dan membawa sekotak takoyaki. Penampilannya bersih dan segar.


Aku terkejut. Seorang mahasiswa?


"Ah Yang, kenapa kamu ke sini?" Wei Lan tersenyum cerah seperti hamster kecil, menyambut majikannya yang datang memberi makan.


"Aku tadi membagikan selebaran di dekat sini dan mampir. Aku bawakan takoyaki untukmu." Pemuda itu tersenyum, matanya melengkung seperti bulan sabit, sama seperti Wei Lan.


Mereka terlihat sangat serasi. Tapi Jiang Ting dengan kejam memisahkan mereka. Sungguh tragis!


Wei Lan merasa senang sekaligus sedih. "Kamu sudah capek membagikan selebaran, jangan buang uang untuk makananku."


"Aku kerja keras supaya bisa memberi Lanlan camilan." Rayuan pemuda itu lumayan ampuh.


Aku berpikir, Jiang Ting tidak pernah membelikanku camilan, dan aku juga tidak suka camilan.


Karena Wei Lan masih bekerja, pemuda itu tidak tinggal lama. Aku duduk di sudut dengan kepala menunduk, takut kalau dia melihatku dan ingat bahwa aku adalah wanita tua yang mendekatinya di klub malam beberapa waktu lalu.


Setelah pemuda itu pergi, aku buru-buru membayar dan keluar.


"Nona." Itu panggilan yang selalu Xiao Li ucapkan padaku.


"Pulang." Aku lelah.


---

https://www.novelterjemahanterbaru.my.id/2026/06/bab-346-ini-bukan-lelucon.html



‎#noveldewaperang #novelindo #novelpetualangan #novelseru #novelayahkudewaperang #dewaperang #ceritanovel #novelterkini #novelpopuler #novelupdate #novelterkini #novelterjemahan #novel

‎Penulis : Xio Ma

‎Source :  Buku Qingxin 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama