Bab 70: Akan Kukirim Kalian Semua

 


Bab 70: Akan Kukirim Kalian Semua


"Kau sedang bermimpi? Berhenti bercanda. Kenapa aku harus membayarmu?"


Sun Haichao tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. Sikapnya sangat arogan.


Jiang Nan berdiri dengan tenang dan berkata santai.


"Karena ini harga yang harus kau bayar. Kau pergi ke gang tua itu. Apa kau tidak tahu apa yang telah kau perbuat?"


Sun Haichao mulai merasa ada yang tidak beres. Bagaimana dia bisa setenang ini saat-saat seperti ini?


Ini sangat tidak wajar. Mungkin mereka datang dengan persiapan?


Kalau tidak, kenapa dia terus-terusan mengungkit soal gang tua itu?


"Siapa sebenarnya kau? Orang macam apa kau ini?"


Jiang Nan merapikan kerah bajunya, berdiri tegak, dan perlahan mendekati Sun Haichao. Posturnya menjulang tinggi seperti gunung, memancarkan aura yang mengesankan.


"Ada seorang wanita tua yang dengan ramah memberimu amplop merah dan mengundangmu masuk ke rumahnya. Dia menyajikan minuman dan kue-kue. Tapi kau melukai wajahnya dan juga melukai suaminya."


Sambil bicara, dia sudah berdiri di hadapan Sun Haichao.


Sun Haichao terdiam. Baru hendak bicara, Jiang Nan berkata lagi, "Lebih dari itu, kau tega punya niat mesum dan hampir memperkosa putri pasangan tua itu. Benar, 'kan?"


Sun Haichao semakin gelisah dan penuh keraguan.


"Bagaimana kau tahu semua ini begitu rinci? Apa kau ada di lokasi kejadian? Apa hubunganmu dengan mereka?"


"Mereka berdua adalah orang tuaku. Dan gadis itu adalah adikku. Sekarang bilang, bukankah seharusnya kau yang bertanggung jawab?"


Tatapan Jiang Nan seperti pisau tajam. Menyilaukan dan bisa melukai kapan saja.


Sun Haichao tanpa sadar mundur selangkah.


Setelah merasa bersalah sesaat, dia segera pulih dan tertawa terbahak-bahak lagi.


"Jadi kau anak dari dua orang tua tidak berguna itu? Dan kakak dari perempuan jalang itu? Jadi maksudmu kau cuma minta ganti rugi pembongkaran? Benar juga kata orang, manusia mati demi harta, burung mati demi makanan. Kau benar-benar nekat, berani meminta uang dariku?"


Orang-orang di sekitar akhirnya paham tujuan Jiang Nan. Mereka ikut tertawa bersama Sun Haichao.


"Kalau mau minta uang, bilang sejak awal. Repot-repot begini buat apa? Lihat, karena uang, kau sampai membunuh orang. Tidak sebanding. Bagaimana kalau begini: kau bersujud padaku di depan umum, setiap satu sujud aku kasih sepuluh juta tambahan."


"Ide bagus, itu tawaran yang sangat menguntungkan. Hei, kenapa tidak kau terima saja?"


"Ini pertama kalinya aku lihat orang yang rumahnya mau digusur minta uang kayak gini. Dunia ini memang ada-ada saja."


Banyak yang mulai mengejek Jiang Nan dan ikut meramaikan suasana.


Mereka menganggap Jiang Nan bodoh dan naif.


Tapi Jiang Nan tetap tenang dan acuh tak acuh. Bicaranya dingin.


"Kalau kalian masih ngotot mau bersekutu dengan Sun Haichao, kalian akan bernasib sama seperti Zhang Shuwei. Aku takkan membiarkan satu pun dari kalian hidup."


Tawa itu langsung membeku di wajah mereka. Tapi kemudian mereka tertawa lagi lebih keras, sampai keluar air mata.


"Nak, apa kau belum pernah lihat dunia? Siapa yang kau coba takutkan dengan kata-kata seperti itu? Pikir kami orang biasa? Coba lihat, semua orang yang berani duduk di sini hari ini, selain kau, adalah para veteran. Coba tanya mereka, siapa di industri ini yang tidak kenal kami?"


"Benar. Kehadiranmu hari ini cuma bikin acara kami lebih meriah. Tuan Muda Sun, lebih baik kita akhiri saja. Tidak ada gunanya buang waktu dengan orang ini."


"Anak kemarin sore, sombong tapi masih hijau. Tidak layak untuk main-main. Suruh anak buahmu usir saja."


Sun Haichao juga mulai merasa bosan dengan Jiang Nan.


Awalnya dia mengira Jiang Nan punya latar belakang yang hebat. Sekarang kelihatannya cuma mengandalkan keberanian dan kebodohan.


Dia tiba-tiba kehilangan minat.


"Baiklah, teman-teman. Usir dia. Tapi wanita cantik ini bisa kita pertimbangkan untuk tetap di sini. Lagipula, dia sudah membunuh orang, harus bayar dengan nyawa. Lebih baik kita manfaatkan saja, setidaknya tidak sia-sia."


Sun Haichao lalu berdiri dan menatap juru lelang.


Dia juga tidak ingin melanjutkan sandiwara ini. Lagipula, semua orang yang hadir selain Jiang Nan dan Bai Ling adalah anak buahnya.


Karena masalah sudah terbuka, ya sudah, ikuti alurnya saja.


Sekelompok pria kekar, bersama para satpam di sekitar aula, mengepung Jiang Nan dan Bai Ling. Mereka siap menangkap keduanya.


Bai Ling mengepalkan tinjunya, siap bertindak. Tapi kemudian dia sadar Jiang Nan sudah bergerak lebih dulu.


Jiang Nan menerkam seperti harimau. Dalam sekejap, angin kencang menyapu ruangan, membuat banyak kursi dan meja tumbang.


Banyak orang kehilangan keseimbangan. Mereka hanya melihat sesosok bayaran melesat melewati kerumunan, membidik kepala Sun Haichao, lalu membantingnya ke atas meja juru lelang.


Juru lelang sangat ketakutan hingga palunya terjatuh. Tangannya gemetar hebat.


Semua orang terperangah. Benar-benar tidak menyangka.


Semua terjadi dalam sekejap. Tak ada yang sempat menghentikan.


Meskipun jumlah mereka banyak, mereka tidak berdaya dan tidak berani bergerak.


Wajah Sun Haichao pucat pasi seperti kertas. Dia berusaha memberontak.


Mulut dan hidungnya menyemburkan udara. Tubuhnya menggeliat seperti ayam atau bebek mau disembelih.


Sekali serangan, kepalanya bisa putus kapan saja.


Jiang Nan meningkatkan tekanan tangannya. Darah muncrat dari kepala Sun Haichao, membasahi jari-jarinya.


Dia mengamati sekeliling dengan keganasan seekor harimau. Tatapannya yang tajam seolah bisa membakar segalanya menjadi abu.


Semua orang tersentak. Tiba-tiba mereka memandang Jiang Nan dengan rasa hormat yang baru.


"Sekarang, kau mau membantuku membayar dan membeli gang tua itu?"


Karena kesakitan, amarah Sun Haichao mencapai puncak.


Tapi kepalanya dihantam dan dia tidak bisa bergerak. Dia merasa sangat tidak nyaman.


"Kau pikir mengancamku akan membuatku takut? Tidak akan. Mau setuju atau tidak, kau tetap tidak akan bisa keluar dari sini. Jangan mimpi. Kau cuma serakah uang, 'kan? Lepaskan aku sekarang, lalu bersujud minta ampun, atau..."


Jeritan menyakitkan terdengar, diikuti suara pecah.


Kedua mata Sun Haichao berubah menjadi dua lubang berdarah. Dia langsung buta.


"Atau apa? Setelah kau mati, nanti keturunanmu yang akan bersujud padamu. Eh, tidak, setelah aku mengirimmu pergi, aku akan habisi juga seluruh keluargamu, biar tidak merepotkan."


Jari-jari Jiang Nan seperti bor baja. Keras dan tajam. Perlahan menembus pipi Sun Haichao. Rasa sakit yang luar biasa itu tak tertahankan. Sun Haichao akhirnya menyerah sambil menangis berdarah.


"Aku beli... aku beli! Cepat... cepat tanda tangani kontrak tanahnya!"


"Ingat, harganya satu triliun."


"Aku... aku hanya bawa dua ratus miliar. Jangan coba-coba merampok. Aku kesakitan... lepaskan aku..."


Wajah Sun Haichao berlumuran darah. Dia melambai-lambaikan tangannya dengan liar. Penampilannya menyedihkan.


"Begitu? Kalau begitu, suruh ayahmu, Sun Fumin, datang bawa uangnya. Aku bisa tunggu di sini. Sedangkan kalian semua, sebaiknya pergi saja."


Jiang Nan mengamati kerumunan itu. Tekanan luar biasa dari tatapannya membuat mereka ketakutan.


Pria ini benar-benar mesin pembunuh. Orang gila. Iblis. Jangan diprovokasi lagi.


Mereka pun bubar seperti burung dan binatang buas. Bahkan anak buah Sun Haichao dan para satpam mundur ke luar ruangan. Mereka hanya bisa menonton dari kejauhan.


"Jangan pergi! Kembali! Cepat telepon ayahku!"


Sun Haichao terisak-isak, teriakannya tidak karuan.


"Kau berani, biar ayahku datang dan memastikan kau mati mengenaskan."


Jiang Nan menginjak Sun Haichao dengan satu kaki. Alisnya berkerut, memancarkan aura dominasi.


"Itulah yang aku mau. Aku ingin lihat seperti apa ayahmu. Lebih baik bawa seluruh keluargamu. Biar sekalian kukirim kalian semua, biar perjalanan ke neraka tidak sepi."


---


‎#noveldewaperang #novelindo #novelpetualangan #novelseru #novelayahkudewaperang #dewaperang #ceritanovel #novelterkini #novelpopuler #novelupdate #novelterkini #novelterjemahan #novel*

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama